Powered by Blogger.
Showing posts with label Tips Pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label Tips Pekerjaan. Show all posts

Wednesday, October 26, 2011

Mengenal Semangat Kerja Karyawan

AGAR dapat memberikan performa yang terbaik, karyawan tentu memiliki semangat tersendiri. Semangat inilah yang kemudian menjadi motivasi bagi karyawan untuk semakin memberikan kinerja yang optimal dan memberi kontribusi bagi perusahaan. Berkaitan dengan semangat, aspek ini rupanya dibagi menjadi dua garis besar. Yakni, motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Pada motivasi intrinsik atau motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang, lebih mengarah pada tingkat kepuasan atas kinerja (performance) yang ditunjukkannya. Dalam hal ini apabila karyawan diberikan feedback berkala atau evaluasi yang rutin atas kerjanya, maka karyawan akan mampu menilai seberapa besar kinerja mereka. Umpan balik yang bisa diberikan berupa pujian, laporan kedisiplinan, laporan tertulis, hingga peringatan.

Sedangkan untuk memotivasi secara ekstrinsik atau motivasi dari luar, adalah dengan memberikan karyawan kepastian akan kinerja yang dilakukan. Biasanya dilakukan dengan memberikan bonus. Untuk diketahui, ada tiga tipe bonus. Yakni small bonus di mana seseorang mampu menunjukkan performance sedikit di atas standar perusahaan. Ada pula yang disebut medium bonus. Bonus ini ditujukan bagi seseorang yang mampu menunjukkan kinerja di atas standar dan bersifat kontinyu. Dan yang terakhir adalah special bonus,yaitu ketika seseorang karyawan berhasil menunjukkan prestasi kinerja yang melebihi dari prestasi karyawan lainnya.  Ada pula kepastian akan upah yang diberikan. Dan diberikan pula kesempatan untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi. Karenanya, dengan mengefektifkan kedua motivasi ini, maka seorang karyawan mampu memberikan performance yang maksimal.

Semangat bekerja karyawan rupanya juga dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan atasan. Seperti dikatakan oleh Christian Siboro yang merupakan salah seorang pendiri dan konsultan SYS Consulting seperti dilansir dari situs portalhr.com. Menurutnya, kondisi iklim kerja akan memengaruhi kondisi motivasi dan semangat kerja karyawan di dalam sebuah perusahaan.  "Jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam organisasi atau unit kerja, maka akan membuat iklim kerja menjadi kondusif," katanya. Dan pada akhirnya, tukas Christian, akan memberi motivasi yang tinggi bagi karyawan untuk memberikan yang terbaik dalam mencapai target kerja. Bukan tidak mungkin jika karyawan pun akan memberikan extra ordinary atau discretionary efforts. Lebih jauh Christian mengatakan, faktor yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan karyawan dalam menghasilkan kinerja tinggi engaged performance di antaranya aspek kepemimpinan, yang di dalamnya juga terkait dengan aspek komunikasi dan arahan dari pimpinan ke seluruh anggota organisasi atau unit kerja.

Survei lain yang dilakukan oleh salah satu consulting firm global juga menyatakan bahwa naik turunnya iklim kerja sebesar 70 persen dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Sementara naik turunnya kinerja sebesar 30 persen dipengaruhi oleh iklim kerja. Jadi, jika mau memperbaiki kinerja 30 persen lebih tinggi, cukup dengan memperbaiki iklim kerja, dan gaya kepemimpinan. Dengan catatan faktor-faktor lain dianggap tetap atau stabil. Hal tersebut, menunjukkan bagaimana kritikalnya peran pemimpin di setiap lapisan organisasi dalam menentukan motivasi karyawan, melalui iklim kerja yang diciptakannya.

Tuesday, October 25, 2011

Mensyukuri Pekerjaan

Banyak sekali orang yang mengeluhkan tentang pekerjaannya. Alasannya pun beragam macam. Ada yang soal gaji rendah. Teman yang tidak bersahabat. Atasan yang pilih kasih. Karir yang tidak naik-naik. Dan seribu satu alasan lainnya. Makanya, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat ke kantor. Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh kemampuan. Datang kesiangan, pulang kegesitan. Seakan-akan kita ini tidak membutuhkan pekerjaan itu. Sekarang, coba bayangkan; bagaimana seandainya besok pagi kita kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidup Anda akan tetap baik-baik saja? Hmmmh, barangkali ini adalah saat yang tepat untuk kembali mensyukuri pekerjaan yang saat ini kita miliki. Sudahkah Anda mensyukuri pekerjaan pagi ini?

1.      Rasa syukur menentukan kebahagiaan. Rasa syukur kepada pekerjaan adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan setiap kekecewaan. Seberat apapun beban pekerjaan yang Anda hadapi, pasti akan terasa ringan jika Anda memiliki rasa syukur yang lebih besar dari beban itu. Sebaliknya, seenak apapun suasana dan imbalan yang dapatkan dari pekerjaan Anda; maka Anda akan tetap mengeluhkannya jika rasa syukur Anda atas semua kenikmatan kerja itu terlalu kecil untuk menghidupkan lentera nikmat dalam hati Anda. Makanya, banyak orang dengan kedudukan dan imbalan tinggi yang masih mengeluhkan pekerjaannya. Dan banyak orang yang pekerjaannya bejibun namun tetap gembira meski bayarannya ’tidak seberapa’. Keluhan bukanlah monopoli orang-orang berkedudukan rendah. Kegembiraan juga bukan monopoli mereka yang jabatannya tinggi. Malah kita sering menyaksikan hal yang sebaliknya. Jika kita tidak kunjung bahagia dengan kehidupan kerja, mungkin kita perlu bersyukur lebih banyak lagi. Mengapa? Karena rasa syukur pada pekerjaan sangat menentukan apakah kita bahagia dengan pekerjaan itu atau tidak.  

2.      Rasa syukur memberi ketabahan. Jika boleh memilih, apakah Anda lebih menyukai pekerjaan yang berat secara fisik, atau berat tanggungjawabnya? Normalnya, orang-orang berpendidikan tinggi tidak menyukai pekerjaan fisik yang berat. Meski tidak terlalu suka pada tanggungjawab yang berat, tetapi itu adalah pilihan terbaiknya. Pekerjaan fisik itu melelahkan dan imbalannya rendah. Sedangkan tanggungjawab besar pada pekerjaan non fisik diimbangi dengan ruang kerja yang nyaman nyaris tanpa keringat, pakaian perlente, dan tentunya; bayaran yang jauh lebih tinggi. Maka, kemungkinan besar; Anda akan memilih tangggungjawab besar daripada kerja fisik yang berat. Normal. Tapi, mengapa banyak orang yang memegang tanggunjawab besar justru sering ingin berhenti, atau lari ke tempat lain hanya karena merasa beban yang harus kita pikul terasa sangat berat? Mengapa banyak pegawai biasa-biasa saja yang justru lebih kuat dan lebih tabah? Ternyata orang-orang biasa itu lebih banyak bersyukur daripada kita. Dengan rasa syukur itu mereka membangun kekuatannya. Karena rasa syukur memberi kita ketabahan.

3.      Rasa syukur melahirkan keikhlasan. Jangan salah kaprah. Ikhlas itu tidak sama artinya dengan tidak dibayar. Kita semua berhak untuk mendapatkan bayaran yang sepadan atas pekerjaan atau kontribusi yang kita berikan. Ikhlas juga bukan berarti menerima saja perlakukan tidak senonoh orang lain. Ikhlas itu berkaitan dengan sikap mental ketika kita menerima penugasan atau kondisi-kondisi tertentu yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Ini bisa berkaitan dengan jenis pekerjaan, lingkungan kerja, atau orang-orang yang bekerja dengan kita. Orang ikhlas itu jarang mengeluh. Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari keluhan pada pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati kita semakin lelah. Produktivitas kita semakin rendah. Dan performance appraisal kita semakin payah. Maka marilah kita belajar untuk ikhlas menerima penugasan atau tuntutan kerja. Marilah belajar ikhlas pada lingkungan kerja dan orang-orang yang bekerja bersama kita. Lalu kita alokasikan energy yang biasa kita gunakan untuk mengeluh itu menjadi daya dorong bagi pencapaian dan prestasi tinggi kita.  Dan untuk bisa ikhlas, kita butuh rasa syukur. Mengapa? Karena keikhlasan dilahirkan dari rasa syukur atas setiap anugerah yang kita terima melalui pekerjaan yang kita dapatkan.

4.      Rasa syukur mendorong untuk berprestasi. Bayangkan Anda adalah orang yang memiliki ketiga indikator ini; bahagia, tabah, dan ikhlas. Apakah dengan ketiga indikator itu Anda bisa mencapai prestasi tertinggi di tempat kerja? Yes, tanpa keraguan sedikitpun. Mengapa? Orang-orang yang bahagia bekerja tanpa beban sehingga semua energy yang dimilikinya didedikasikan tanpa gangguan. Mereka yang tabah tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tugas-tugas sulit, melelahkan dan menantang. Sedangkan keikhlasan yang dimilikinya membuat mereka bersedia melakukan tugasnya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada kesempatan, peluang, energy maupun dedikasi yang disia-siakan. Maka wajar jika orang yang bahagia, tabah dan ikhlas itu bisa melampaui kinerja kebanyakan orang. Dan kita sudah membahas dimuka bahwa, kebahagiaan ditempat kerja, ketabahan dalam menjalani pekerjaan, dan keikhlasan menerima keadaan dihasilkan dari rasa syukur kepada pekerjaan. Maka nyata sekali jika rasa syukur itu mendorong kita untuk berprestasi tinggi. Maka bersyukurlah atas pekerjaan Anda, karena dengan rasa syukur itu Anda bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi.

5.      Rasa syukur memberi lebih banyak nikmat. Guru kehidupan saya mengatakan jika Tuhan sangat menyukai orang-orang yang bersyukur sehingga Dia tidak segan-segan untuk menambah kenikmatan bagi mereka yang senang bersyukur. Boleh saja jika Anda mengira hal itu hanya berlaku untuk aspek-aspek spiritual yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Tapi, coba bayangkan situasi ini. Anda mempunyai 2  anak buah. Yang pertama adalah si jago komplain, tukang mengeluh, dan tidak pernah puas atas apa yang Anda berikan kepadanya. Yang satu lagi adalah orang yang tahu berterimakasih, lalu membalas kebaikan Anda kepadanya dengan kesungguhan dalam bekerja, memberikan yang terbaik dari dirinya sehingga prestasinya selalu memuaskan Anda. Saya tidak perlu bertanya orang yang mana yang menjadi kesayangan Anda. Saya juga tidak perlu bertanya kepada siapa Anda akan memberi lebih banyak lagi. Sudah jelas sekali jika Tuhan menyukai orang-orang yang bersyukur. Atasan atau pemilik perusahaan tempat kita bekerja juga demikian. Maka rasa syukur kita kepada pekerjaan, benar-benar memberi kita lebih banyak lagi. Mungkin penghasilan. Mungkin kesempatan. Mungkin kepercayaan. Atau mungkin, hal-hal lain yang tidak pernah kita bayangkan.

Pekerjaan merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dengan pekerjaan, bukan saja kita mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan fisik belaka. Dengan pekerjaan, kita bisa mendapatkan ketentraman jiwa dan ketenangan hati. Pekerjaan juga memberi kita kebanggaan dihadapan orang lain. Bisa jadi pekerjaan kita tidak gampang untuk dijalani. Bisa jadi juga pekerjaan kita tidak selalu menyenangkan. Mungkin pekerjaan kita belum menghasilkan imbalan yang tinggi. Tapi percayalah, memiliki pekerjaan itu jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Maka bagaimanapun juga, pekerjaan yang hari ini kita miliki, sangat layak untuk kita syukuri.


Teknik Mengkritik Yang Simpatik

Tidak seorangpun suka dikritik. Termasuk seseorang yang secara terbuka mengatakan;’silakan kritik saya!’ Percayalah. Orang hanya suka dikritik jika kritikan itu tidak menyinggung perasaan dan harga dirinya, tidak memojokkannya, dan tidak menelanjangi ketidakmampuannya. Masalahnya adalah, kita sering tergoda untuk menyampaikan kritik bukan dengan cara yang disukai oleh orang yang dikritik, malah lebih sering disertai dengan dorongan emosi kita sendiri. Walhasil, kita hanya berteriak-teriak tanpa bisa mengharapkan penerimaan dan kelapangan dada orang yang kita kritik. Hasil akhirnya? Anda sebal kepada orang yang tidak mau dikritik. Sebaliknya, orang yang Anda kritik semakin tidak menyukai Anda. Bukan kondisi seperti ini yang Anda inginkan, iya kan?

1.      Bercerminlah terlebih dahulu. Seperti halnya saya, Anda bukanlah manusia yang sempurna. Jadi, kalau menemukan kesalahan atau kelemahan pada diri orang lain, tidak usah langsung ingin mengkritik. Tengoklah ke dalam diri sendiri, sebelum menyampaikan kritik kepada orang lain. Saya teringat pada seseorang yang mengkritik saya tentang sesuatu. Menurut hemat saya, beliau benar soal kritikan itu sehingga saya mengikutinya. Lagipula, kritikannya itu baik untuk menjadi sarana saya meningkatkan diri saya sendiri. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan orang itu. Saya mengucapkan terimakasih atas kritik yang dulu pernah disampaikannya, karena saya benar-benar mendapatkan manfaatnya. Sayangnya, ternyata beliau menerapkan apa yang dulu saya lakukan yang menjadi pokok kritikannya kepada saya. Rasa hormat saya kepada beliau tidak berkurang. Tetapi, kejanggalan itu terasa di dalam hati. Maka sebelum mengkritik orang lain, lebih baik jika Anda bercermin terlebih dahulu.

2.      Abaikanlah hal-hal yang kecil. “Don’t sweat the small stuff,” kata Richard Carlson. Kita ini sering usil dengan hal-hal kecil. Padahal banyak hal kecil yang tidak terlalu prinsipil. Mengapa? Karena jika Anda terjebak dengan hal-hal atau kesalahan kecil yang orang lain lakukan, maka Anda bisa kehilangan penglihatan terhadap hal-hal besar yang orang itu kontribusikan. Masak sih gara-gara kesalahan kecil yang tidak berpengaruh banyak lalu kita mau menihilkan jasa-jasa baik seseorang? “Hey, hal-hal kecil kalau dibiarkan bisa jadi besar!” Anda benar soal itu. Tapi apakah semua hal kecil seberbahaya itu. Justru orang-orang baik perlu melakukan kesalahan kecil. Mengapa? Karena kesalahan kecil itu menghindarkan dia dari sikap sombong dan menyadarkannya pada kenyataan bahwa dia adalah mahluk yang tidak sempurna. Dengan begitu dia bisa terus menjaga sikap rendah hati. Lagipula, bukankah kita sendiri juga banyak melakukan kesalahan kecil? Jadi, kalau orang lain melakukan kesalahan kecil yang  tidak merugikan Anda – maka sebaiknya Anda abaikan sajalah. Tidak usah usil.

3.      Nilailah tingkat urgensinya. Banyak kelemahan orang lain yang bisa kita kritik. Cara berbicaranya. Cara berkirim emailnya. Cara berpakaiannya. Cara berjalannya. Cara bekerjanya. Cara makannya. Percayalah, tidak terhitung banyaknya. Anda tidak akan pernah sanggup untuk sekedar menginventarisirnya. Bayangkan jika setiap kelemahan orang lain itu harus Anda kritik? Bisa-bisa, Anda kehabisan waktu untuk membenahi diri Anda sendiri. Belajarlah untuk menilai tingkat urgensinya. Jika hal itu tidak penting-penting amat, sebaiknya Anda abaikan saja. Bukan berarti Anda menjadi apatis, melainkan menggunakan energy yang Anda punya untuk mengkritik hanya hal-hal yang memang penting. Menjadi pribadi yang impulsif itu melelahkan lho.  Makanya, Anda perlu belajar menilai tingkat urgensi sesuatu yang menyentak tombol ‘spesialis kritik’ dalam ubun-ubun Anda.

4.      Tinggalkanlah emosi dilemari besi. Coba perhatikan baik-baik bagaimana cara Anda mengkritik. Adakah emosi menyertainya? Tanpa disadari kita berbicara dalam suatu forum hingga memojokkan seseorang. Serius, dulu saya begitu. Lalu saya sadar bahwa itu bukanlah teknik simpatik dalam mengkritik. Alih-alih menerima kritikan, orang malah menjauhi kita. Contoh lain, seseorang mengkritik saya tentang isi artikel yang menurutnya ‘terlalu panjang’ sehingga beliau malas membacanya. Katanya, artikel saya harus ditulis singkat dan padat supaya tidak membuang-buang waktu pembacanya. Beliau benar. Namun kebenaran  tidak hanya ada di satu sisi. Karena ada argument lain yang juga tepat. Artikel saya, hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin membacanya. Anehnya lagi, kritikan untuk menulis singkat itu justru ditulis dengan panjang lebar termasuk beribu argumen; mengapa sebuah pesan email harus singkat. So, tidak perlu membawa-bawa emosi saat mengkritik. Jika ada emosi itu, maka tinggalkanlah di lemari besi Anda.

5.      Sampaikanlah kritik dengan santun. Kesantunan bukan hanya milik orang timur. Orang barat pun sangat santun lho. Mengapa sih, kita perlu belajar santun? Karena kesantunan itu menunjukkan ‘kelas’ seseorang. Ini tidak selalu berkorelasi dengan pendidikan, karena banyak juga orang yang berpendidikan tinggi namun kalah santun dengan orang yang sekolahnya biasa-biasa saja. Oleh sebab itu, kesantunan menjadi elemen penting dalam mengkritik. Kritik tentang kesantunan yang disampaikan secara tidak santun bisa kehilangan makna. Mengapa? Bisa jadi orang yang dikritik menjadi lebih baik, sementara orang yang mengkritik tetap menjadi pribadi yang picik. Lebih dari itu, bukankah kita tahu bahwa Tuhan sangat tidak menyukai orang-orang yang mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya? Jika Tuhan Yang Maha Bijak saja tidak suka, apalagi sesama manusia. So, belajarlah untuk menyampaikan kritik secara santun.


Friday, February 18, 2011

Tips Menata Meja Kerja dengan Feng Shui

Anda sering merasa tak punya ide di tempat kerja? Atau sulit membina hubungan baik dengan rekan-rekan? Atau belum juga dipromosikan? Kemungkinan penyebabnya adalah tatanan meja kerja yang salah. Berikut saran-saran dari ahli Feng Shui Jane Alexander dalam bukunya The Five Minute Healer:
  • Jika Anda merasa sulit fokus atau memusatkan pikiran pada pekerjaan Anda, letakkan sebuah lampu di satu sisi meja Anda. Atau potongan bunga segar yang bisa membantu memicu aktivitas Anda.
  • Jika permintaan Anda untuk kenaikan gaji atau promosi tidak digubris, coba letakkan penahan kertas kristal di sudut kiri meja (area ruang menurut Feng Shui), dengan menyisipkan slip gaji Anda dibawahnya. Hal ini bisa menarik energi positif yang bisa mendatangkan keberuntungan. Dalam hal ini, kenaikan gaji.
  • Area yang tepat berada di depan Anda, dan daerah yang tepat berada di belakang meja Anda, adalah area popularitas Anda. Gantungkan penghargaan dan diploma Anda di sana, bersama dengan lilin atau kristal warna merah, kuning, atau ungu untuk membantu Anda menarik perhatian kepada Anda.
  • Jika Anda sulit berhubungan dengan kolega, letakkan foto tim kerja Anda di sudut kanan meja Anda. Daerah ini menguasai hubungan kerja di kantor. Letakkan lilin kuning di depannya untuk mendapatkan energi ekstra.
Dikutip dari : http://www.klipingku.com, sumber : Aura
     

    Blogger news

    Lencana Facebook

    About